Bertaaruf dengan Hiday Nur

Menulis adalah sesuatu yang hampir semua orang bisa lakukan pada hari ini. Namun, menulis sesuatu yang bermanfaat bukan perkara yang bisa setiap orang lakukan. Butuh ilmu, latihan dan kesabaran. Tak jarang sepaket usaha gagal karena tak sabar. Dan salah satu penopang agar seseorang bisa sabar dan tak memutuskan untuk memutus perjuangan itu adalah sahabat. Ya, sahabat. Teman yang menjelma jadi saudara. Memiliki tujuan dan rasa yang sama. Termasuk bagi seseorang yang baru ingin ‘menjerumuskan’ diri dalam dunia menulis dengan serius seperti saya. Juga bagi sosok yang sudah pada dirinya mengalir karya dan manfaat yang menginspirasi banyak orang seperti Mbak Hiday Nur, sosok yang akan saya kenalkan pada teman-teman dalam sketsa kata saya ini.

Hanya suka curhat dalam bentuk puisi, tak tertata rapi apalagi terdokumentasi dan tak tentu arah hingga minim nilai kebermanfaatan. Itulah kondisi saya sampai pertengahan tahun 2018 silam. Namun itu perlahan mulai berubah saat saya memutuskan mengikuti suatu komunitas menulis yang me-‘rodi’-kan setiap anggotanya dengan menulis satu tulisan setiap hari, tunai dan dipampang di halaman blog masing-masing. Komunitas ini dikenal sebagai One Day One Post. Biasa dipanggil ODOP. Inilah gerbang bagi saya untuk mengetahui sosok Hiday Nur.

instagram.com/komunitas.odop/

Persisnya di kelas besar materi ODOP, pada Kamis malam di penghujung bulan Agustus 2018. “Personal Branding” adalah topik yang dibawakan oleh seseorang yang sudah mencuri perhatian saya sejak mata ini membaca profil singkatnya di poster yang di-posting akun Instagram resmi ODOP: awardee LPDP. Walaupun kemudian saya menjadi lebih kagum dengan kisah keliling-Eropa-berkat-tulisan beliau, nyatanya sosok bernama asli Nur Hidayati ini berhasil ‘mengusik’ saya untuk berusaha mengenal beliau lebih dalam lagi.

Berkeliling negara-negara di benua Eropa, sebutlah Belanda, Jerman, Italia dan Perancis, seolah adalah bagian ‘kulit’ bagi bundel karya Mbak Hiday. Dan sebagian dari ‘isi’-nya adalah keberadaan 11 (sebelas) textbook bahasa Arab-Inggris, beberapa antologi puisi maupun cerita pendek yang telah Mbak Hiday Nur lahirkan. Sementara Kumpulan Puisi: 30 Menit agaknya menjadi salah satu karya yang berkesan, mengingat wanita yang menggemari karya-karya dari Buya Hamka ini, gemar menorehkan curahan hati berupa puisi sejak jaman masih berseragam putih biru. Disamping itu, saya belum bisa melupakan satu karya beliau yang (lagi-lagi) mencuri hati saya: Awardee Stories. Adalah karya Mbak Hiday bersama teman-temannya sesama awardee LPDP 2016. Sayang sekali sampai tulisan ini dibuat, saya belum berjodoh dengan buku ini.

instagram.com/hiday_nur_r/

Tiada karya tanpa konsiten dan tiada konsisten tanpa lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang mendukung termasuk di dalamnya orang-orang yang sevisi dan bersinergi dalam aksi. Inilah yang kiranya dibuktikan oleh Mbak Hiday. Sederet karya beliau lahir ditengah komunitas menulis yang digeluti Mbak Hiday, diantaranya Forum Lingkar Pena (FLP) Tuban, One Day One Post dan Sahabat Pena Nusantara. Selain itu, ibu dari Ali Krishna dan Aisyah Shabrina Kazumi ini, juga aktif sebagai editor di komunitas yang beliau prakarsai, yaitu Nulis Aja Community (NAC). Tak luput Prosa tujuh, yang sekarang menjadi salah satu tempat Mbak Hiday memelihara asa untuk melahirkan sebuah buku kumpulan cerpen. Dalam komunintas-komunitas inilah proses berkarya Hiday dan sahabat terjalin seperti episode-episode sinetron Indonesia jaman dahulu, ber-season dan lewat seribu episode kalau ditotali. Longlast pakai banget.

Sahabat menjadi saksi dan penguat dalam berjuang agaknya tak cukup ‘hanya’ diajak menghasilkan buku-buku antologi. Mbak Hiday seakan mengukuhkan statement-nya pada saya di suatu senja bahwa

Saya suka belajar. Gak tau kenapa, suka aja. Di forum ilmiah dan diskusi, hati saya (hampir selalu) buncah”,

dengan langkahnya sejak akhir tahun 2018 yang  mendirikan sebuah sanggar—tempat belajar—bahasa dan sastra. Sanggar Caraka.

instagram.com/hiday_nur_r/

Sebuah wadah memberi dan menerima ilmu dan apa saja yg bisa didapat dan diterima dari kehidupan, wadah mencari dan mengenali diri sendiri dan orang lain,”

paparnya saat saya interview via media obrol Whatsapp. Dan kali ini, salah satu sahabatnya yang membersamai Mbak Hiday dalam membangun sanggar adalah sang suami sendiri.

Mengenal, melalui perkenalan singkat, sosok Hiday Nur mengingatkan saya pada salah satu sabda Nabi SAW bahwa manusia terbaik adalah yang paling banyak memberi manfaat pada sekitarnya. Semoga Sanggar Caraka bisa selalu menjadi wadah bermanfaat: tempat mengalirnya ilmu dan terpeliharanya jiwa-jiwa yang merendah untuk mereguk ilmu itu.

Sebagai closing penceritaan saya tentang Mbak Hiday, saya mengutip sebuah nasihat berupa analogi sederhana tapi bermakna. Semoga selalu jadi pengingat dan penguat untuk saya, pembaca terutama sang pencetus nasihat ini. Juga semoga Mbak Hiday beserta keluarga—support system sekaligus sahabat terhangat beliau—selalu diberikan semangat dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya.

“Seperti air soalnya, ilmu cuma mau mendatangi orang yang memosisikan dirinya lebih rendah.”


Hiday Nur (dalam tulisan ‘Sehati, Sehobi’)
Iklan

4 respons untuk ‘Bertaaruf dengan Hiday Nur

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: